Caption : Prima, (Kanan foto) Didampingi Ketua DPD (Tengah) dan Ketua OKK DPD HNSI Babel.
Situasi terkini, Jumat (03/4/26) penambang ilegal di perairan Keranggan_tembelok, Mentok masih nekat setia menunggu di perairan meskipun sudah dihimbau berkali-kali oleh Polres Bangka Barat.
Untuk itu, HNSI Kabupaten Bangka Barat mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) untuk bertindak tegas mengusir para penambang ilegal “nakal” yang masih parkir di wilayah tangkap nelayan dan kawasan konservasi.
Serta turut mengapresiasi jajaran Polres Bangka Barat yang telah melaksanakan berulang kali himbauan, terakhir pada Kamis (2/4) dengan mengamankan sebanyak 5 unit ponton selam.
Prima, Ketua DPC HNSI Bangka Barat menegaskan bahwa aktivitas penambangan liar ini mengancam mata pencaharian nelayan dan meminta APH tidak pandang bulu dalam menindak para pelaku maupun pemodal tambang ilegal.
“Laporan dari berbagai sejumlah perwakilan nelayan yang mengungkapkan kehadiran tambang di wilayah tersebut dinilai menjadi pemicu utama lumpuhnya ekonomi nelayan lokal,” sebutnya.
“Mereka melaporkan bahwa sejak adanya aktivitas pertambangan di wilayah tersebut, hasil tangkapan mereka menurun drastis dibandingkan sebelumnya,” tambahnya.
Sebelumya, Serbuan dari ratusan penambang ilegal jenis ponton selam di perairan keranggan, mentok, bangka barat akhirnya berhasil ditahan Polsek Mentok, Polres Bangka Barat, Kamis (2/4/26).
Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hari sekira pukul 09.00 wib ini dimulai dari apel bersama di halaman Kapolsek Mentok, serta dipimpin langsung oleh Kapolsek Mentok, IPTU Rusdi Yusnial.
Seusai memberikan himbauan kepada segelintir perwakilan masyarakat maupun penambang, dirinya mengatakan tujuan kegiatan guna mengosongkan perairan dari ratusan ponton selam.
“Kegiatan hari ini untuk pengosongan area keranggan dan tembelok terkait adanya aktivitas penambangan ilegal, tentunya kami disini melaksanakan perintah Kapolres,” kata Kapolsek.
Kembali ditegaskannya, apabila ada pihak-pihak yang ingin atau sengaja melanggar himbauan yang telah dilaksanakan, pihaknya akan kembali melakukan penertiban.
“Kami himbau kepada masyarakat kami, yang melakukan aktivitas penambangan agar dapat mengikuti apa yang kami himbau kamu arahkan untuk meninggalkan lokasi,” pesan Kapolsek.
Ekonomi Merosot:
Hasil laut yang biasanya melimpah kini sulit didapat sejak alat berat dan aktivitas tambang masuk ke wilayah tangkap mereka.
Wilayah Terinvasi:
Nelayan merasa ruang gerak mereka untuk menebar jaring semakin sempit dan terbatas.
Diduga kuat limbah atau kebisingan dari aktivitas tambang membuat ikan menjauh dari pesisir tradisional Mentok.
Terakhir, dirinya menambahkan akan terus mengawal laporan dari AK dan IS hingga ada tindakan nyata dari pihak berwenang di lapangan.
“Perlindungan terhadap zona tangkap adalah harga mati untuk menjaga keberlangsungan hidup ratusan kepala keluarga nelayan di Bangka Barat,” tutupnya.
By Kak_prim.










